Banyak brand owner yang semangat di awal bikin konten, tapi akhirnya mandek karena bingung harus posting apa. Akibatnya, feed kosong, engagement seret, dan jualan pun nggak bergerak. Padahal, tanpa strategi yang jelas, konten cuma numpang lewat tanpa dampak nyata.
Isi Artikel
Kenapa Brand Butuh Strategi Content Marketing?

Ada beberapa alasan, di antaranya:
1. Meningkatkan brand awareness & lead generation
Konten yang konsisten bisa bikin lebih banyak orang kenal brand.
Data dari Taboola menunjukkan 87% bahwa B2B marketer merasa content marketing efektif untuk membangun awareness, dan 74% bilang konten membantu menghasilkan lead baru.
Jadi, konten bukan cuma dilihat, tapi bisa jadi pintu masuk calon pelanggan.
2. Dipakai hampir semua brand
Melansir dari Brafton, sekitar 97% marketer sudah menjalankan content marketing dalam strategi mereka. Kalau brand kamu nggak punya strategi jelas, risiko tertinggal dari kompetitor jadi lebih besar.
Ini bukan lagi soal ikutan tren. Masalahnya adalah kita perlu bertahan dan dikenal di dunia digital.
3. Membantu SEO dan hemat biaya jangka panjang

Konten yang bagus bisa masuk ke Google Search dan mendatangkan traffic organik tanpa bayar iklan terus-menerus.
Faktanya, data dari Hello Roketto menyebutkan bahwa 70% marketer menilai SEO (yang sangat bergantung pada konten) lebih efektif mendatangkan penjualan dibanding iklan berbayar.
Artinya, content marketing bisa bantu hemat budget.
4. Membangun kredibilitas & loyalitas pelanggan
Audiens lebih percaya pada brand yang rutin berbagi konten bermanfaat.
Konten edukasi, tips, atau cerita sukses pelanggan bisa bikin orang merasa dekat dengan brand. Inilah yang jadi alasan kenapa content marketing sering disebut cara jangka panjang untuk membangun loyalitas pelanggan.
5. ROI makin tinggi dengan bantuan AI
Sekarang banyak brand memanfaatkan AI untuk mempercepat produksi konten. Data dari DemandSage menjelaskan bahwa 67% marketer sudah pakai AI untuk content & SEO, dan 68% dari mereka melaporkan ROI meningkat.
Jadi, strategi content marketing modern bukan cuma efektif, tapi juga lebih efisien.
Baca juga: Content Marketing: Definisi, Strategi, dan Contohnya
21 Strategi Content Marketing untuk Brand Baru
Berikut ini kita akan membahas strategi content marketing yang praktis, bisa langsung dipakai, dan relevan buat brand baru di Indonesia.
1. Posting foto produk dengan pencahayaan bagus
Foto produk adalah wajah brand. Kalau gelap atau buram, audiens langsung kehilangan minat. Pencahayaan natural dari jendela atau bantuan ring light bisa bikin produk lebih menarik tanpa perlu kamera mahal.
Misalnya, UMKM skincare di Bandung berhasil naikkan engagement 3x lipat hanya dengan foto produk di dekat jendela putih polos.
Ingat, visual yang jelas dan terang bikin orang lebih percaya untuk beli.
2. Tambahkan caption singkat dan CTA
Caption adalah tempat untuk ngobrol langsung dengan audiens. Jangan cuma deskripsikan produk, tapi beri ajakan sederhana.
Misalnya: “Yuk coba sekarang!” atau “Klik link di bio untuk pesan.” CTA membantu audiens tahu langkah selanjutnya, bukan sekadar lihat-lihat.
Contoh: brand kuliner menutup caption dengan “Pesan via DM, free ongkir hari ini!” hasilnya order masuk lebih cepat.
3. Gunakan hashtag relevan
Hashtag membantu kontenmu ditemukan audiens baru di luar follower. Jangan asal pakai yang viral, tapi pilih kombinasi populer dan niche.
Misalnya: #kopilokal #kopisidrap lebih efektif daripada #fyp yang terlalu luas. Brand fashion lokal banyak yang berhasil tembus explore dengan pakai #ootdindonesia + hashtag bahan (#linenoutfit).
Dengan begitu, kontenmu lebih tepat sasaran.
4. Posting konsisten minimal 3x seminggu
Algoritma media sosial menyukai akun yang aktif. Posting konsisten bikin brand selalu muncul di feed audiens. Nggak harus tiap hari, tapi minimal 3 kali seminggu supaya engagement tetap hidup.
Misalnya, akun UMKM makanan yang rajin upload tiap Senin, Rabu, Jumat—orderannya lebih stabil dibanding yang posting semaunya. Konsistensi membangun kepercayaan dan ekspektasi audiens.
5. Upload testimoni pelanggan
Testimoni lebih dipercaya dibanding klaim brand sendiri. Screenshot chat WhatsApp atau ulasan Shopee bisa jadi konten sederhana tapi powerful. Audiens merasa lebih yakin karena ada bukti sosial nyata.
Misalnya, toko aksesoris upload testimoni “Barang sesuai foto, pengiriman cepat” → posting itu viral karena relatable.
Konten testimoni juga membantu calon pembeli melewati rasa ragu.
6. Buat konten before–after produk
Visual perbandingan bikin audiens penasaran. Cocok untuk produk kecantikan, kebersihan, atau dekorasi rumah.
Misalnya, before–after masker wajah atau poles furniture bikin orang lebih percaya. Format ini bisa foto atau video, yang penting jelas terlihat perubahan.
Banyak brand cleaning service yang viral hanya dari konten before–after karpet kotor jadi bersih kinclong.
7. Posting behind the scenes proses sederhana
Audiens suka lihat sisi manusia dari sebuah brand. Tunjukkan proses packing, masak, atau kirim barang. Video behind the scenes memberi kesan transparan dan jujur.
Misalnya, brand cookies bikin video “packing 100 box untuk Lebaran” yang akhirnya ditonton ratusan ribu kali di TikTok.
Konten ini bikin pelanggan merasa lebih dekat dan percaya dengan brand.
8. Buat microblog singkat di caption
Caption panjang tapi padat informasi bisa berfungsi sebagai microblog. Bagi tips, fakta, atau insight yang relevan dengan produkmu.
Misalnya, brand kopi menulis “3 fakta singkat soal kopi Toraja” dalam caption, bikin follower menambah pengetahuan. Microblog efektif untuk engagement karena audiens merasa kontenmu bernilai lebih dari sekadar jualan.
Tambahkan ajakan diskusi di akhir untuk meningkatkan komentar.
9. Posting konten seasonal
Momen besar seperti Ramadhan, Natal, atau Tahun Baru selalu jadi topik hangat. Brand bisa ikut tren dengan produk edisi khusus atau promo tematik.
Misalnya, brand minuman bikin “Ramadhan Special Edition” dengan packaging berbeda. Konten seasonal juga bisa berupa ucapan selamat yang relevan.
Dengan cara ini, brand jadi terlihat update dan dekat dengan audiens.
10. Posting konten edukasi carousel
Carousel bikin audiens betah swipe lebih lama. Gunakan untuk tips singkat, tutorial, atau edukasi ringan.
Misalnya, brand fashion membuat carousel “5 cara mix & match linen outfit” → hasilnya banyak disimpan orang. Konten edukasi bikin brandmu punya value lebih, bukan cuma jualan.
Dengan format visual step-by-step, orang lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.
11. Manfaatkan Instagram Story interaktif
Story punya fitur polling, Q&A, dan quiz yang bisa bikin audiens ikut terlibat.
Misalnya, brand makanan bikin polling “Tim pedas atau manis?” → hasilnya bisa dipakai untuk ide konten selanjutnya. Story juga lebih ringan dan cepat dikonsumsi dibanding feed.
Audiens jadi merasa punya hubungan dua arah dengan brand. Semakin sering interaksi, semakin kuat kedekatan dengan pelanggan.
12. Repost user generated content
UGC (user generated content) adalah konten dari pelanggan yang menggunakan produkmu. Repost foto atau video mereka dengan izin, lalu beri apresiasi.
Cara ini membuat pelanggan merasa dihargai, sekaligus jadi testimoni gratis.
Contoh: brand fashion repost foto pelanggan pakai outfit mereka → follower lain ikut termotivasi buat beli.
UGC juga memperkuat image brand yang autentik.
13. Buat highlight story untuk katalog produk
Highlight bikin katalog produk selalu tersedia di profil.
Audiens baru yang mampir bisa langsung lihat koleksi tanpa harus scroll jauh. Bikin kategori rapi seperti “Best Seller”, “New Arrival”, dan “Promo”.
Misalnya, brand hijab menaruh semua warna koleksi di highlight agar mudah dipilih pembeli.
Highlight membantu konversi karena audiens bisa cepat ambil keputusan.
14. Posting konten unboxing
Unboxing memperlihatkan excitement saat produk dibuka. Audiens bisa melihat detail kemasan, kualitas, dan isi produk.
Format ini sederhana tapi powerful karena membangun rasa penasaran.
Misalnya, brand skincare lokal bikin video unboxing kemasan barunya, lalu viral karena dianggap estetik.
Unboxing juga memperkuat trust karena menampilkan produk apa adanya.
15. Pakai template desain sederhana di Canva
Branding akan terlihat lebih rapi kalau desain konsisten.
Canva bisa jadi solusi cepat tanpa perlu designer. Pilih template dengan warna sesuai identitas brand, lalu gunakan berulang.
Misalnya, brand snack pakai template warna oranye cerah di setiap posting, sehingga feed terlihat seragam.
Desain yang konsisten bikin audiens lebih mudah mengenali brand.
16. Posting tips & trik pakai produk
Konten edukasi ringan bikin produkmu lebih relevan.
Misalnya, brand peralatan dapur bikin video “cara mudah bersihin blender” dengan produk pembersih mereka.
Tips & trik menunjukkan bahwa produkmu bukan hanya untuk dibeli, tapi benar-benar bermanfaat.
Format ini juga membuat orang cenderung share karena berguna. Jadi, brand terlihat helpful dan dipercaya.
17. Upload video pendek (15–30 detik)
Konten singkat lebih mudah ditonton sampai habis. Gunakan untuk teaser produk, tutorial cepat, atau momen behind the scenes.
Misalnya, bakery bikin video slow-motion roti sobek, bikin audiens ngiler. Video pendek juga lebih mudah viral di TikTok dan Reels.
Algoritma biasanya memprioritaskan konten dengan durasi singkat tapi menarik.
18. Posting meme relevan
Meme bikin brand terasa lebih dekat dengan audiens.
Asal tetap sesuai dengan persona brand, meme bisa jadi konten ringan yang viral.
Misalnya, brand kopi bikin meme tentang “ngopi sebelum meeting” yang relatable bagi pekerja kantoran.
Humor bikin engagement meningkat karena orang senang membagikan konten lucu.
Tapi ingat, jangan sampai lepas kendali dan merusak citra brand.
19. Gunakan giveaway sederhana
Giveaway adalah cara cepat meningkatkan reach dan follower baru.
Atur syarat ringan seperti like, komen, dan tag teman.
Misalnya, brand aksesori bikin giveaway kalung edisi terbatas, hasilnya follower naik ribuan dalam seminggu.
Giveaway juga bisa membangun awareness dengan biaya relatif kecil. Pastikan hadiahnya relevan dengan target audiens.
20. Manfaatkan trending topic sesuai brand
Jangan asal FOMO, pilih tren yang nyambung dengan produkmu.
Misalnya, saat tren “es teh vs kopi” viral, brand minuman ikut nimbrung dengan postingan menu baru.
Konten trending biasanya punya peluang lebih besar muncul di explore.
Tapi tetap filter agar sesuai dengan value brand. Kalau salah pilih tren, bisa merusak image.
21. Analisis performa dengan insight Instagram/Facebook
Strategi tanpa evaluasi hasil = percuma.
Manfaatkan insight bawaan Instagram/Facebook untuk lihat performa konten.
Perhatikan konten mana yang paling banyak disimpan, dikomen, atau dibagikan.
Misalnya, brand skincare menemukan konten tutorial lebih banyak disimpan, sehingga mereka fokus bikin lebih banyak video edukasi.
Data ini penting untuk optimasi strategi ke depan.
Intinya
Content marketing itu bukan soal punya budget besar, tapi soal kreativitas dan konsistensi.
Mulai dari hal sederhana: foto produk bagus, caption singkat, dan posting rutin. Lalu kembangkan ke level berikutnya: edukasi, storytelling, sampai analisis performa.
Dari berbagai strategi ini, pilih 3–5 yang paling realistis untuk dieksekusi.
Kalau konsisten, hasilnya akan terasa dalam beberapa bulan.
Referensi:
- Taboola. (2025, February). Content marketing statistics: The ultimate list. Taboola Marketing Hub. Diakses dari https://www.taboola.com/marketing-hub/content-marketing-statistics/
- DemandSage. (2025, July). Content marketing statistics (2025). DemandSage. Diakses dari https://www.demandsage.com/content-marketing-statistics/
- Roketto. 11 content marketing stats that prove it’s still effective. Hello Roketto. Diakses dari https://www.helloroketto.com/articles/content-marketing-statistics
- Brafton. The big list of content marketing statistics. Brafton. Diakses dari https://www.brafton.com/content-marketing-statistics/




