Banyak yang mengira content planner hanyalah sebuah kalender berisi tanggal posting. Padahal, content planner adalah bagian inti dari strategi digital marketing. Kok gitu?
Isi Artikel
Apa Itu Content Planning dan Content Planner?

Seringkali dua istilah ini dianggap sama, padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda dalam strategi marketing.
Berikut perbedaan keduanya melansir dari Content Marketing Institute:
- Content Planning adalah proses perencanaannya. Ini adalah aktivitas penting di mana kamu menentukan tujuan jangka panjang, meriset topik, memahami audiens, dan memutuskan jenis konten apa yang akan diproduksi. Singkatnya, ini adalah tahap berpikir sebelum bertindak.
- Content Planner adalah alat atau dokumen kerjanya. Ini adalah wujud fisik dari hasil perencanaan tersebut, biasanya berbentuk tabel, kalender, atau aplikasi manajemen tugas.
Jadi sederhananya, Content Planning adalah aktivitas menyusun strategi, sedangkan Content Planner adalah tempat untuk mencatat dan menjadwalkan strategi tersebut agar bisa dieksekusi dengan rapi.
Baca juga: Tren Content Marketing 2026
Content Plan Terdiri dari Apa Saja?
| Komponen | Deskripsi & Checklist |
| Tujuan | Alasan konten dibuat. Pastikan jelas arahnya: apakah untuk mengenalkan produk baru (Awareness), mengedukasi pasar (Engagement), atau mendorong penjualan (Sales). |
| Target Audiens | Siapa yang dituju. Cek apakah data demografi (usia, lokasi) dan psikografi (minat, masalah/pain point) sudah spesifik? Jangan menargetkan “semua orang”. |
| Topik & Keyword | Apa yang dibahas. Pastikan topik ini adalah turunan dari Content Pillar yang sudah ditetapkan dan mengandung kata kunci yang relevan/dicari audiens. |
| Format Konten | Bentuk aset visual. Tentukan output akhirnya: Video pendek (Reels/TikTok), Gambar geser (Carousel), Artikel Blog, atau Infografis. |
| Platform Distribusi | Di mana akan tayang. Sesuaikan gaya bahasa dan ukuran visual dengan platform yang dipilih (Instagram, LinkedIn, TikTok, atau Website). |
| Jadwal Tayang | Timeline produksi & publikasi. Pastikan sudah ada tanggal produksi (kapan dibuat) dan tanggal/jam tayang yang pasti di kalender. |
| KPI | Tolok ukur keberhasilan. Tentukan angka targetnya untuk menilai sukses/gagal. Contoh: 1.000 views, 50 klik link, atau 20 saves. |
Agar sebuah content plan bisa dijalankan dengan baik, dokumen content plan harus terdiri dari hal-hal berikut ini:
- Tujuan
Alasan utama kenapa konten tersebut dibuat. Apakah untuk mengenalkan produk baru, mengedukasi pasar, atau mendorong penjualan langsung.
- Target Audiens
Siapa orang spesifik yang ingin dijangkau. Data ini mencakup usia, minat, lokasi, dan masalah yang mereka hadapi.
- Topik dan Keyword
Tema apa yang akan dibahas. Ini biasanya turunan dari content pillar utama yang sudah ditetapkan sebelumnya.
- Format Konten
Bentuk aset yang akan diproduksi. Apakah berupa video pendek (Reels/TikTok), gambar geser (Carousel), artikel di web, atau infografis.
- Platform Distribusi
Di mana konten tersebut akan ditayangkan. Setiap platform (Instagram, LinkedIn, TikTok) mungkin membutuhkan gaya bahasa dan ukuran visual yang berbeda.
- Timeline
Kapan konten tersebut harus diproduksi dan kapan tanggal serta jam tayangnya.
- Key Performance Indicator
Tolok ukur keberhasilan. Angka apa yang akan dilihat untuk menilai apakah konten tersebut sukses atau gagal, misalnya jumlah penayangan, jumlah klik link, atau jumlah save.
5 Cara Membuat Content Planner
Berikut adalah cara membuat content planner, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.
| Komponen | Deskripi | Contoh |
|---|---|---|
| Business Goal | Apa target bisnis bulan ini? (Awareness / Leads / Sales). | Meningkatkan penjualan E-book “Cara Atur Gaji UMR” sebanyak 50 copy. |
| Content Goal | Apa tugas konten untuk mencapai target bisnis itu? | Membangun kepercayaan (Trust) bahwa saya ahli mengatur uang kecil. |
| Target Audiens | Siapa yang kita ajak bicara? (Spesifik). | Fresh Graduate, usia 22-25 tahun, gaji UMR, sering boncos di kopi & ojol. |
| Unique Voice | Gaya bahasa apa yang dipakai? | Santai, seperti teman tongkrongan, tidak menggurui, banyak pakai istilah slang. |
1. Tahap Perencanaan Awal
Sebelum mengisi jadwal, kamu perlu menyiapkan strategi dasarnya agar konten tepat sasaran.
- Tentukan Tujuan Utama
Tetapkan apa target utamanya. Apakah untuk memperluas awareness, meningkatkan engagement, atau meningkatkan conversion? Tujuan ini akan menentukan jenis konten yang harus dibuat.
- Pahami Target Audiens
Ketahui siapa yang akan melihat kontenmu. Pahami demografi mereka mulai dari gender, usia, lokasi; termasuk masalah apa yang mereka hadapi agar kontenmu bisa memberikan solusinya.
- Audit Konten Lama
Cek kembali konten yang sudah pernah diposting. Catat topik mana yang performanya bagus dan mana yang buruk, lalu gunakan data tersebut sebagai acuan untuk strategi berikutnya.
Baca juga: Tren Penggunaan Sosial Media
2. Tahap Ide & Struktur Konten
Pada tahap ini, kamu menyusun ide topik agar konten tetap fokus dan tidak melebar.
- Tentukan Content Pillar
Pilih 3-5 topik utama yang akan selalu dibahas. Hal ini penting agar audiens mengenal akunmu sebagai ahli di bidang tertentu, bukan akun yang isinya campur aduk.
- Atur Variasi Konten
Gunakan perbandingan jenis konten. Misalnya, 70% konten edukasi, 20% konten hiburan atau tren, dan 10% konten promosi jualan. Hal ini menjaga agar audiens tidak bosan karena terus-menerus melihat iklan.
- Riset Kata Kunci
Cari tahu topik apa yang sedang dicari orang di Google atau media sosial. Pastikan ide kontenmu menjawab pertanyaan atau kebutuhan audiens.
3. Tahap Eksekusi & Jadwal
Tahap ini adalah proses teknis memasukkan ide ke dalam jadwal kerja.
- Buat Kalender Editorial
Siapkan tabel (bisa di Excel atau aplikasi lain) yang berisi kolom: Tanggal Tayang, Judul Konten, Format (Video/Gambar), Status Pengerjaan, dan Keterangan Visual.
- Buat Konten Sekaligus (Batching)
Jangan membuat konten satu per satu setiap hari. Tetapkan satu hari khusus untuk menulis atau merekam banyak konten sekaligus untuk stok satu minggu atau satu bulan.
- Tetapkan Status Pengerjaan
Gunakan status yang jelas di tabelmu, misalnya: Ide, Sedang Dibuat, Siap Posting, dan Sudah Tayang. Tujuannya agar tidak ada jadwal yang terlewat.
4. Tahap Distribusi & Promosi
Setelah konten tayang, kamu perlu merencanakan distribusinya agar dilihat lebih banyak orang.
- Promosi Lintas Platform
Rencanakan di mana saja konten akan dibagikan. Misalnya, video dari Instagram Reels juga diunggah ke TikTok atau YouTube Shorts.
- Sebar ke Komunitas
Bagikan link kontenmu ke grup WhatsApp, Telegram, atau komunitas Facebook yang relevan dengan topik tersebut.
- Email Marketing
Jika kamu memiliki daftar email pelanggan, kirimkan info tentang konten terbaru tersebut melalui newsletter untuk mendatangkan pengunjung secara langsung.
5. Tahap Evaluasi
Lakukan peninjauan rutin untuk melihat apakah rencanamu berjalan efektif.
- Analisis Mingguan
Cek data kinerja konten setiap akhir pekan. Lihat angka secara objektif.
- Fokus pada Hasil Real
Jangan hanya melihat jumlah likes. Perhatikan metrik yang lebih penting seperti berapa orang yang menyimpan konten (saves) atau berapa banyak yang menghubungi via DM (leads).
- Perbaiki Strategi
Jika ada jenis konten yang hasilnya buruk terus-menerus, segera ganti dengan topik atau format lain di perencanaan bulan berikutnya.
5 Tools untuk Membuat Content Planner

Pilih alat bantu yang paling sesuai dengan kebutuhan kerjamu:
- Notion

Sangat fleksibel. Kamu bisa membuat catatan ide, script, dan editorial plan dalam satu tempat.
- Google Sheets

Pilihan standar dan gratis. Cocok jika kamu lebih suka tampilan tabel sederhana yang bisa diatur sendiri secara manual.
- Trello

Tool ini menggunakan tampilan board. Cocok untuk memantau proses pengerjaan konten (misalnya menggeser kartu dari kolom “Sedang Dibuat” ke “Selesai”) dengan mudah.
- Meta Business Suite

Tool resmi dari Meta untuk Facebook dan Instagram. Wajib digunakan untuk menjadwalkan postingan secara otomatis dan gratis.
- Canva

Aplikasi desain yang serbaguna. Selain untuk mendesain gambar, Canva juga memiliki fitur Content Planner untuk menjadwalkan postingan langsung ke media sosial tanpa perlu pindah aplikasi.

Sebagai kesimpulan, membuat content planner mungkin terlihat rumit di awal, tetapi ini adalah investasi waktu yang akan sangat memudahkan kerjaanmu sehari-hari.
Tanpa perencanaan yang matang, kamu akan mudah kehabisan ide dan sulit menjaga konsistensi posting.
Ingat, alat yang canggih tidak akan berguna tanpa strategi yang jelas.
Mulailah dari langkah yang paling sederhana hari ini, pilih tools yang paling nyaman digunakan, dan fokuslah pada eksekusi yang konsisten untuk mencapai target bisnismu.




