Kebiasaan konsumen Indonesia di 2027 diperkirakan berubah karena tiga faktor utama, yaitu tekanan ekonomi, penggunaan AI dalam pencarian informasi, dan pergeseran kepercayaan dari institusi menuju individu. Konsumen tidak lagi hanya asal membeli, tetapi menjadi lebih selektif, lebih aktif memeriksa informasi, dan lebih berhati-hati dalam memercayai klaim brand.

Temuan dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 dari IDN Research Institute menunjukkan bahwa strategi marketing berbasis awareness saja tidak lagi cukup. Brand perlu membantu konsumen memahami pilihan, menilai manfaat, dan mengurangi risiko sebelum membeli.
Millennials dan Gen Z kini berjumlah sekitar 194 juta orang atau 68% dari populasi Indonesia. Keduanya sama-sama hidup dalam tekanan ekonomi dan digitalisasi, tetapi memiliki titik awal berbeda. Millennials berusia 30-45 tahun umumnya telah memiliki lebih banyak tanggungan dan komitmen finansial.
Sementara itu, Gen Z berusia 14-29 tahun tumbuh ketika ketidakpastian ekonomi, media sosial, dan algoritma telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Daftar Isi
Bagaimana Tekanan Ekonomi Mengubah Perilaku Konsumen Indonesia?

Tekanan ekonomi membuat konsumen semakin berhitung sebelum mengeluarkan uang. Pada 2025, jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia turun dari 47,9 juta menjadi 46,7 juta orang. Sebaliknya, kelompok aspiring middle class bertambah sekitar 4,5 juta menjadi 142 juta orang.
Survei IDN Research Institute juga menemukan bahwa 65,8% responden menahan atau menunda pengeluaran karena khawatir kondisi finansial mereka memburuk.
Namun, hal ini tidak selalu berarti konsumen berhenti berbelanja. Mereka lebih fokus pada kebutuhan penting, mempertimbangkan manfaat jangka panjang, serta mencari alasan yang lebih kuat sebelum memilih produk.

Respons terhadap tekanan ekonomi juga tidak seragam. Sebagian konsumen menekan pengeluaran, sedangkan sebagian lainnya tetap melakukan pembelian kecil untuk mendapatkan rasa nyaman atau kendali dalam jangka pendek.
Karena itu, komunikasi yang hanya menonjolkan aspirasi, status, atau rasa takut tertinggal berisiko tidak relevan. Sebanyak 69,1% responden justru lebih tertarik pada konten pengelolaan finansial yang praktis daripada konten yang menekankan risiko “jatuh miskin”.
Brand perlu memberikan rasa kendali melalui informasi harga yang transparan, perbandingan produk, simulasi biaya, penjelasan manfaat, dan panduan memilih berdasarkan kebutuhan.
Bagaimana AI Mengubah Cara Konsumen Mencari Informasi?

AI mulai menjadi filter pertama sebelum konsumen mengunjungi website atau membaca artikel secara lengkap. Berdasarkan Survei Internet APJII 2025 yang dikutip dalam report, 43,7% Gen Z telah mengakses konten berbasis AI. Pada Millennials, angkanya mencapai 22,3%.
AI digunakan untuk belajar, mencari informasi, merangkum topik, dan membandingkan pilihan. Artinya, konsumen dapat membentuk persepsi mengenai suatu kategori atau produk tanpa terlebih dahulu mengunjungi kanal resmi brand.
Perubahan ini membuat strategi content marketing Indonesia harus berkembang dari sekadar mengejar rangking di Google. Konten juga perlu mudah dibaca, diringkas, dan dipahami oleh sistem AI.
Brand dapat meningkatkan peluang menjadi rujukan AI dengan menyediakan:
- Jawaban langsung pada awal pembahasan.
- Struktur heading yang sesuai dengan pertanyaan konsumen.
- Data, sumber, dan konteks yang dapat diverifikasi.
- Penjelasan produk yang spesifik tanpa klaim berlebihan.
- Perbandingan dan panduan yang membantu pengambilan keputusan.
Konten yang terlalu promosi berisiko tidak digunakan sebagai sumber. Sebaliknya, konten dengan fakta yang jelas dan pembahasan mendalam dapat membantu brand membangun otoritas dalam kategorinya.
Mengapa Konsumen Lebih Memercayai Individu daripada Institusi?

Kepercayaan konsumen tidak hilang, tetapi berpindah. Menurut report, audiens semakin menilai konsistensi narator, rekam jejak, dan transparansi kepentingan di balik sebuah konten. Kreator yang konsisten membahas satu topik dapat lebih dipercaya daripada institusi besar yang hanya muncul ketika menjalankan kampanye.
Meski demikian, substansi tetap penting. Sebanyak 41,4% responden memilih data dan fakta yang disajikan secara visual sebagai jenis konten yang paling mampu menghentikan aktivitas scrolling. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan video pengalaman pribadi dari warganet maupun liputan berita formal.
Kolaborasi dengan kreator karena itu sebaiknya diposisikan sebagai strategi membangun kepercayaan, bukan hanya cara memperluas jangkauan. Brand perlu memilih kreator berdasarkan relevansi topik, kredibilitas, dan kedekatannya dengan komunitas, bukan jumlah pengikut semata.
Apa yang Harus Dilakukan Brand untuk Menggaet Konsumen pada 2027?

Brand perlu menghubungkan tiga tahapan: ditemukan, dipercaya, dan dipilih. Konten harus hadir di Google, media sosial, kanal kreator, dan jawaban AI dengan pesan yang konsisten.

Setelah menarik perhatian, brand perlu membuktikan klaim melalui data, sumber, pengalaman nyata, serta informasi produk yang transparan. Proses menuju pembelian juga perlu dipermudah dengan menjawab pertanyaan mengenai harga, manfaat, risiko, cara penggunaan, dan kesesuaian produk.

Konsumen Indonesia 2027 sebenarnya bukan tidak mau membeli. Mereka hanya lebih perhitungan dalam membelanjakan uang, lebih tersebar dalam mencari informasi, dan lebih selektif dalam memberikan kepercayaan. Brand yang paling relevan bukan sekadar yang paling sering terlihat, tetapi yang paling mampu membantu konsumen membuat keputusan.