20 Cara Membuat Konten Edukasi yang Menjual

Banyak brand rajin bikin konten edukasi, tapi hasilnya sering sepi engagement dan minim konversi.

Konten terasa bermanfaat, tapi audiens gak merasa perlu lanjut ke produk yang ditawarkan. Padahal dengan strategi yang tepat, konten edukasi bisa jadi mesin penjualan yang natural dan powerful. 

Berikut ini kita bakal ngebahas cara membuat konten edukasi yang menjual dan tetap memberi value tinggi kepada target market bisnis.

Apa Itu Konten EdukasI?

Konten edukasi adalah jenis konten yang dibuat untuk memberikan pengetahuan, informasi, atau keterampilan baru kepada audiens. Tujuannya bukan hanya promosi, tapi membantu audiens memahami suatu topik, menyelesaikan masalah, atau meningkatkan kemampuan mereka. Konten edukasi biasanya lebih informatif, mendalam, dan relevan dengan kebutuhan audiens.

Contoh Konten Edukasi untuk UMKM:

  1. UMKM Makanan
    • Konten: “5 Cara Bedain Dimsum Halal & Non-Halal”
    • Format: Carousel Instagram dengan tips singkat.
    • Manfaat: Audiens belajar, brand kamu jadi terlihat ahli dan dipercaya.
  2. UMKM Fashion
    • Konten: “Tips Merawat Baju Linen Biar Awet & Gak Mudah Kusut”
    • Format: Reels dengan tutorial sederhana.
    • Manfaat: Pelanggan merasa dapat ilmu, plus jadi lebih yakin beli karena ada aftercare.
  3. UMKM Kecantikan
    • Konten: “Kenapa Sunscreen Itu Wajib, Bahkan Kalau Lagi di Rumah?”
    • Format: Infografis + caption penjelasan.
    • Manfaat: Edukasi kebutuhan, sekalian membuka jalan buat promosi produk sunscreen kamu.

Jadi, kunci konten edukasi untuk UMKM itu: beri manfaat dulu, baru perlahan arahkan ke produk.

20 Cara Membuat Konten Edukasi yang Menjual

Cara bikin konten edukasi yang menjual: mulai dari memahami audiens, pakai storytelling, optimasi SEO, hingga soft selling.

Adapun cara bikin konten edukasi yang menjual, yakni:

1. Tentukan target audiens

Mulai dengan bikin buyer persona sederhana berisi usia, pekerjaan, minat, dan masalah utama mereka. Tujuannya supaya kontenmu nyambung dan tepat sasaran, bukan asal tembak. 

Contoh: brand skincare fokus ke perempuan 20–30 tahun dengan masalah kulit berjerawat ringan.

2. Riset kebutuhan dan masalah audiens

Pakai tools kayak Google Keyword Planner, cek komentar di Instagram, atau forum untuk tahu pertanyaan yang sering muncul. Tujuannya biar kontenmu relevan dengan keresahan nyata audiens. 

Contoh: banyak orang tanya “gimana cara pilih kopi tanpa bikin asam lambung kambuh” → bisa jadi bahan konten coffee shop.

3. Pilih topik yang relevan dengan produk

Pastikan setiap topik yang diangkat masih punya benang merah ke produk/layananmu. Tujuannya agar edukasi yang kamu kasih tetap mengarah ke brand positioning. 

Contoh: kursus digital marketing bikin konten tentang “cara bikin iklan Facebook hemat budget” yang nyambung langsung ke layanan mereka.

4. Gunakan hook kuat di awal konten

Mulai konten dengan kalimat yang bikin berhenti scroll, misalnya pertanyaan, fakta mengejutkan, atau cerita singkat. Tujuannya biar audiens tertarik baca sampai akhir. 

Contoh: “70% konsumen lebih percaya brand yang kasih konten edukatif daripada iklan langsung”.

5. Buat judul yang memancing rasa ingin tahu

Gunakan angka, kata kerja aktif, atau frasa “rahasia” untuk bikin judul lebih clickable. Tujuannya agar kontenmu punya CTR tinggi di search engine atau media sosial. 

Contoh: “7 Kesalahan Fatal Saat Bikin Konten Edukasi” akan lebih menarik daripada “Tips Membuat Konten Edukasi”.

6. Buat outline konten edukasi

Sebelum menulis, bikin struktur jelas pakai poin-poin utama biar alurnya rapi. Tujuannya supaya pembaca gampang mengikuti alur dan kamu gak ngalor-ngidul. 

Contoh: outline artikel berisi poin: tentukan audiens, pilih topik, buat hook, lalu akhiri dengan CTA.

7. Gunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami

Hindari jargon teknis yang bikin bingung, ganti dengan istilah sehari-hari. Tujuannya agar pembaca dari berbagai level tetap bisa menangkap pesannya. 

Contoh: ganti “leverage SEO strategy” dengan “pakai teknik SEO biar artikelmu gampang muncul di Google”.

8. Sisipkan storytelling

Tambahkan cerita nyata atau kisah singkat biar konten lebih hidup. Tujuannya supaya pembaca lebih terhubung emosional dan gampang ingat isi konten. 

Contoh: ceritakan pengalaman UMKM yang omzetnya naik setelah rutin bikin konten edukasi di Instagram.

9. Berikan solusi yang mengarah ke produk

Jangan cuma jelaskan masalah, tapi kasih jalan keluar yang relevan dengan produkmu. Tujuannya agar audiens sadar bahwa solusi terbaik bisa didapat dari brandmu.

Contoh: bahas masalah “konten susah dapet reach”, lalu tawarkan solusi berupa tools analitik yang kamu jual.

10. Sisipkan soft selling call-to-action

Masukkan ajakan halus tanpa terkesan maksa. Tujuannya biar pembaca tetap merasa diedukasi sambil diarahkan ke produk. 

Contoh: “Kalau kamu mau belajar lebih dalam, cek eBook gratis kami di sini.”

11. Tambahkan visual menarik

Gunakan gambar, ilustrasi, atau infografis untuk memperjelas isi konten. Tujuannya supaya pembaca gak bosan dengan teks panjang. 

Contoh: pakai carousel Instagram berisi step-by-step cara bikin blog post.

12. Gunakan format konten variatif

Sesuaikan format dengan platform yang kamu gunakan. Tujuannya agar pesan edukasi bisa menjangkau audiens lebih luas dengan cara yang mereka suka. 

Contoh: artikel panjang untuk blog, carousel untuk Instagram, dan video singkat untuk TikTok.

13. Optimasi SEO/hashtag sesuai platform

Riset keyword untuk blog dan pilih hashtag relevan untuk media sosial. Tujuannya biar kontenmu gampang ditemukan oleh orang yang memang lagi cari topik tersebut. 

Contoh: artikel tentang “cara bikin konten edukasi” dioptimasi dengan keyword turunan seperti “tips konten edukasi IG”.

14. Tampilkan data atau fakta pendukung

Sertakan statistik atau riset terpercaya untuk memperkuat poinmu. Tujuannya menambah kredibilitas dan bikin pembaca lebih percaya. 

Contoh: menurut HubSpot, 62% konsumen lebih suka brand yang memberikan konten edukasi dibanding hanya promosi.

15. Bangun engagement dengan pertanyaan atau kuis

Ajak audiens untuk jawab pertanyaan atau ikutan polling di akhir konten. Tujuannya meningkatkan interaksi yang bikin algoritma platform lebih suka kontenmu. 

Contoh: “Menurut kamu, strategi mana yang paling susah dijalani: bikin konten rutin atau bikin konten yang viral?”

16. Tambahkan testimoni atau studi kasus

Masukkan bukti nyata dari orang lain yang sudah terbantu dengan produkmu. Tujuannya memperkuat social proof biar audiens lebih percaya. 

Contoh: “Budi berhasil meningkatkan penjualan 3x lipat setelah ikut kelas content marketing kami.”

17. Sisipkan cerita sukses pelanggan

Tampilkan kisah inspiratif tentang pelanggan yang berhasil setelah pakai produkmu. Tujuannya membangun keyakinan bahwa audiens juga bisa meraih hasil serupa. 

Contoh: cerita UMKM kuliner yang berhasil dapat 10.000 followers setelah ikut workshop Instagram dari brandmu.

18. Konsisten posting sesuai jadwal

Buat kalender konten dan disiplin dalam menjalankannya. Tujuannya biar audiens terbiasa menunggu update edukatif darimu. 

Contoh: posting tips singkat setiap Senin dan studi kasus tiap Jumat di Instagram.

19. Bangun serial konten edukasi

Bikin rangkaian konten yang saling nyambung, bukan satu kali lepas. Tujuannya supaya audiens betah dan selalu menunggu kelanjutan. 

Contoh: serial “30 Hari Belajar Copywriting” dengan 1 tips baru setiap hari.

20. Analisis performa dan optimasi ulang

Pantau metrik seperti views, share, dan engagement, lalu evaluasi apa yang berhasil. Tujuannya biar kamu gak buang waktu di strategi yang salah. 

Contoh: kalau video edukasi lebih banyak ditonton daripada artikel panjang, fokuslah bikin lebih banyak video.

Baca juga: Content Marketing 2025: Definisi, Strategi, dan Contoh Lengkap

Bedanya Konten Edukasi dengan Konten Jualan

Melansir dari Copypress, perbedaannya, yakni:

  • Konten Edukasi fokus memberikan pengetahuan, solusi, atau wawasan yang bermanfaat bagi audiens (misalnya tips, how-to, atau penjelasan sederhana). Tujuannya membangun kepercayaan dan menarik orang datang karena merasa terbantu.
  • Konten Jualan fokus langsung pada promosi produk/jasa, menonjolkan fitur, harga, atau ajakan membeli. Tujuannya mendorong konversi yang lebih cepat.
FokusMemberi informasi atau pengetahuan yang relevanMenawarkan produk/jasa secara langsung
TujuanMembangun kepercayaan & menarik perhatianMengajak audiens segera membeli atau mencoba
Gaya BahasaInformatif, ringan, solutifPersuasif, menekankan manfaat & urgensi
Nilai untuk AudiensMembantu memecahkan masalah atau menjawab pertanyaanMenunjukkan kenapa produk/jasa adalah pilihan tepat
Posisi di Customer JourneyTahap awal: mengenalkan, mendidik, membangun awarenessTahap akhir: mendorong keputusan & konversi

Intinya, konten edukasi menarik perhatian dan membangun hubungan, sedangkan konten jualan menutup transaksi, tapi keduanya saling melengkapi dalam strategi content marketing.

Intinya

Konten edukasi yang menjual bukan soal ngajarin teori doang, tapi gimana cara nyambung ke kebutuhan audiens dan secara halus mengarahkan mereka ke produkmu. Dari riset audiens, storytelling, sampai

Nah, CTA soft selling, semua bisa dipraktikkan step by step.

Takeaway: Gak usah bingung milih antara edukasi atau jualan; gabungkan dua-duanya biar kontenmu relevan, engaging, dan tetap menguntungkan.

Referensi:


Leave a Comment