Tahun 2026 menandai babak baru dalam data perilaku pengguna internet Indonesia 2026.
Dengan 77% populasi Indonesia kini terhubung ke internet dan lebih dari 212 juta pengguna aktif media sosial, laporan We Are Social 2026: Digital Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 5 jam setiap hari online, sebagian besar melalui smartphone.
Isi Artikel
- Orang Indonesia Menghabiskan Lebih Banyak Waktu di Internet
- Platform yang Paling Sering Diakses
- Satu Orang, Banyak Layar, Fokusnya Makin Pendek
- Video Masih Raja, Tapi Carousel dan Artikel Mulai Banyak Dikonsumsi Lagi
- Seberapa Sering Kita Harus Posting Konten di 2026?
- Metrik yang Harus Diperhatikan
- Kesimpulannya
YouTube, TikTok, Instagram, dan WhatsApp menjadi empat platform utama yang paling menyita waktu, sementara fenomena multi-screen membuat perilaku konsumsi semakin cepat dan gampang terpecah.
Multi-screen sendiri adalah kondisi di mana seseorang menggunakan lebih dari satu layar dalam waktu bersamaan.
Misalnya, sambil nonton film di TV, dia juga buka TikTok di HP, atau kerja di laptop sambil scroll Instagram. Jadi, perhatian terbagi ke beberapa layar sekaligus, dan itulah kenapa fokus orang sekarang jadi makin pendek.
Saat ini orang tidak hanya sekedar mencari hiburan. Mereka juga ingin berinteraksi dan mencari hal yang bisa terhubung secara emosional dan relevan dengan hidup mereka.
Baca juga: Tren Penggunaan Media Sosial di Indonesia 2026
Orang Indonesia Menghabiskan Lebih Banyak Waktu di Internet

Berdasarkan laporan We Are Social yang rilis 5 November 2025 di Data Reportal, rata-rata orang Indonesia menghabiskan 37 jam 20 menit per minggu online.
Artinya, orang-orang menghabiskan waktu di internet lebih dari 5 jam per hari dan angka ini masih jauh di atas rata-rata global.
Baca juga: Panduan Digital Marketing dari Nol
Sebanyak 98% pengguna internet Indonesia mengakses lewat smartphone, dengan 51,2% menggunakan laptop atau desktop. Hal ini memperlihatkan konteks budaya digital yang mobile-first dan semakin visual.
Aktivitas digital tidak lagi terpisah dari rutinitas kita sehari-hari, seperti bekerja, belanja, belajar, hingga hiburan. Semuanya aktivitas kita melibatkan internet di dalamnya.

Menariknya, budaya konsumsi konten di Indonesia sangat terhubung dengan istilah collective experience di mana orang Indonesia tidak sekadar menikmati konten sendirian, tapi juga ingin berinteraksi dengan orang lain.
Hal ini dijelaskan dalam data bahwa 56,3% orang menggunakan media sosial untuk βkeeping in touch with friends and family,β sementara 55,8% hanya ingin βfill spare timeβ.
Artinya, konten yang akan banyak dikonsumsi ke depannya adalah konten yang tidak hanya informatif, tapi juga harus terasa intimate dan shareable.
Platform yang Paling Sering Diakses

YouTube, TikTok, dan WhatsApp masih menjadi tiga besar. Data We Are Social terbaru mencatat:
- WhatsApp mendominasi dengan 90,8% pengguna aktif bulanan
- Instagram oleh 82,4%
- YouTube digunakan oleh 80,3% pengguna internet
- TikTok sebesar 78,4%
Jika dilihat dari durasi, rata-rata pengguna menghabiskan 16 menit 49 detik setiap kali membuka YouTube, diikuti 15 menit 4 detik di SnackVideo, dan 11 menit 33 detik di TikTok.
Angka ini menunjukkan pergeseran. Kita tidak lagi fokus pada content consumption, tapi pada time capture battle di mana setiap platform berlomba memperpanjang tingkat perhatian kita.
Ke depan, Content Strategy tidak bisa lagi hanya mengejar reach, tapi harus juga mengukur session duration dan content depth engagement.
Satu Orang, Banyak Layar, Fokusnya Makin Pendek

98% orang Indonesia sekarang mengakses internet lewat ponsel dan 51% masih menggunakan laptop atau desktop.
Data dari We Are Social 2026: Digital Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas digital kita sudah benar-benar multi-screen, mulai dari smartphone, laptop, hingga TV.
Fenomena inilah yang disebut multi-screen behavior, di mana perhatian pengguna terbagi di beberapa layar sekaligus.
Sebagai tambahan, data dari Buffer 2025 bahkan menunjukkan rata-rata social media attention span hanya 8 detik di feed-based platform dan 3 detik di short-form video.
Di Indonesia, hal ini tercermin dari perilaku doomscrolling di TikTok dan Instagram Reels di mana orang-orang mengonsumsi ratusan konten pendek setiap hari.
Brand harus memecah pesan besar menjadi βmicro-content seriesβ.
Bukan lagi satu video 2 menit, melainkan 6-8 potongan video 15 detik yang saling terhubung dalam satu cerita yang sama.
Video Masih Raja, Tapi Carousel dan Artikel Mulai Banyak Dikonsumsi Lagi

48,2% pengguna Indonesia menonton konten komedi atau viral video, diikuti 42,3% menonton tutorial, dan 34,9% menonton educational video. Namun menariknya, carousel dan artikel pendek mulai banyak dikonsumsi lagi di LinkedIn dan Threads.
Di platform B2B seperti LinkedIn, audiens lebih menyukai konten carousel karena gampang di-swipe dan memecah ide kompleks menjadi bite-sized slides.
Menurut HubSpot 2025 State of Marketing Report, carousel menghasilkan 40% lebih tinggi engagement rate dibanding single image.
Sementara itu, artikel makin ke sini makin jadi snackable knowledge. Artinya, artikel tidak harus panjang, tapi ringkas dan gampang dipahami.
Rata-rata orang Indonesia cuma baca artikel selama 2-3 menit, jadi idealnya panjang artikel sekitar 700β1.000 kata saja.
Kalau tetap mau bikin artikel panjang, tambahkan ringkasan di awal paragraf pembuka supaya pembaca langsung tahu poin utamanya, dan sisipkan infografik atau tabel biar mata tidak bosan dan pembaca tetap betah sampai akhir.
Seberapa Sering Kita Harus Posting Konten di 2026?

Kalau soal seberapa sering harus posting, hasil riset Buffer 2025 menunjukkan frekuensi yang ideal buat brand di Indonesia:
- Instagram / TikTok: sekitar 4-5 kali seminggu
- LinkedIn: 2-3 kali seminggu
- YouTube Shorts: 2 video pendek per minggu
- Artikel: 2-4 artikel per bulan
Sebenarnya, selama 2026 ke depan, Content Marketing tidak perlu fokus pada seberapa sering kita posting.
Yang perlu difokuskan adalah alur kontennya. Setiap konten sebaiknya punya posisi dalam user journey:
- Awareness
Mulai dari konten ringan yang mudah menarik perhatian misalnya video TikTok atau Reels dengan visual dan hook yang kuat. Tujuannya biar orang sadar dulu kalau brand kita ada.
- Consideration
Konten berikutnya adalah konten yang membantu audiens memahami nilai sebuah produk, seperti carousel edukatif atau how-to video yang memberi solusi atas masalah orang.
- Conversion:
Terakhir, baru kita arahkan ke konten yang mendorong orang untuk bertindak sesuai arahan kita, seperti artikel yang menjelaskan lebih detail, video YouTube berdurasi lebih panjang, atau link ke landing page produk.
Dengan urutan seperti ini, setiap konten saling terhubung dan membentuk perjalanan yang utuh.
Mulai dari kenal, paham, sampai akhirnya orang percaya dan mau mencoba sebuah produk atau jasa dari sebuah brand.
Metrik yang Harus Diperhatikan

Karena kita sudah masuk di era multi-screen dan AI ranking, maka metrik umum seperti likes dan views jadi tidak relevan.
Beberapa metrik yang kini bisa dijadikan rujukan, yakni antara lain:
| Metrik | Fokus | Benchmark 2026 |
| Watch Time | Mengukur real engagement dan relevansi konten video | >50% dari total durasi |
| Saves / Shares | Indikator intent dan nilai edukatif | Naik 15-20% YoY di TikTok & Instagram |
| Completion Rate | Mengukur content stickiness | 60-70% di short video, 40% di long-form |
| Click-Through Rate (CTR) | Menunjukkan CTA dan visual hierarchy yang jelas | 1.5-3% untuk organic |
| Conversation Rate (DM & Comment) | Menunjukkan koneksi emosional dan kredibilitas brand | Fokus > Quality bukan Quantity |
Menurut Brandwatch 2025, kombinasi watch time + saves + CTR menjadi indikator paling kuat dari brand trust growth di media sosial, sehingga lebih akurat dibanding followers atau likes.
Kesimpulannya

Data We Are Social 2026: Digital Indonesia menunjukkan dua hal besar, yaitu internet kita makin padat, tapi perhatian kita makin pendek.
Waktu yang kita habiskan di internet terus meningkat, tapi fokus makin menurun.
Jadi, yang bikin brand diingat oleh orang-orang adalah bukan banyaknya konten, tapi seberapa relevan dan nyambung ceritanya dengan kehidupan audiens.
Bagi Digital Marketer dan Content Marketer, memahami perilaku digital 2026 berarti memandang data bukan sekadar angka, tapi lebih ke cultural signal.
Saat orang menonton 37 jam per minggu, mereka sebenarnya mencari sesuatu yang bermakna, bukan sekadar hiburan.
Oleh karena itu, konten yang akan bertahan di 2026 bukan yang paling viral, tapi yang paling banyak memberikan value ke orang-orang.
Referensi:
- Maddalena, S. (2025, November 4). Digital 2026 – We are Social Indonesia. We Are Social Indonesia. Diakses 11 November 2025 dari https://wearesocial.com/id/blog/2025/10/digital-2026/
- Kemp, S. (2025, November 5). Digital 2026: Indonesia β DataReportal β Global Digital Insights. DataReportal β Global Digital Insights. Diakses 11 November 2025 dari https://datareportal.com/reports/digital-2026-indonesia
- Tamilore Oladipo. (2025, October 29). The Most Up-To-Date Social Media data from Buffer. Buffer: All-you-need Social Media Toolkit for Small Businesses. Diakses 11 November 2025 dari https://buffer.com/resources/buffer-data/
- Viewing post insights in measure. (2025, September 18). Social Media Management. Diakses 11 November 2025 dari https://social-media-management-help.brandwatch.com/hc/en-us/articles/11926906513821-Viewing-Post-Insights-in-Measure
- 2025 State of Marketing Report. Hubspot. Diakses 11 November 2025 dari https://www.hubspot.com/state-of-marketing




