Pagi di Suntenjaya turun pelan, seperti kabut yang ragu-ragu menyingkap puncak Bukit Tunggul.
Udara dingin menempel di kulit, menyalakan aroma rumput basah dan sisa kotoran sapi yang baru dibersihkan. Di kejauhan, suara ember logam berdenting. Air hujan semalam ditampung dalam gentong besar.
Isi Artikel
“Dulu air di sini hanya mengalir,” kata Gunawan Azhari, lelaki berusia empat puluhan yang tubuhnya kurus tapi matanya tajam.
“Sekarang air kami simpan, kami jaga.”
Ia menyebut tempat ini Ecovillage JAGAL; singkatan dari Jaga Alam.
Semboyannya sederhana, yaitu Kita jaga alam, alam jaga kita.
Kalimat ini bukan slogan di spanduk, tapi keyakinan yang tumbuh dari tanah, dari kesadaran bahwa hidup di lereng tak pernah mudah.
Bertahun-tahun lalu, warga Suntenjaya bergantung pada peternakan sapi dan ladang sayur.
Hujan deras membuat tanah longsor. Kotoran ternak mencemari sungai kecil yang menjadi hulu Cikapundung. Ketika kemarau datang, air kering, tanaman mati, dan debu menempel di daun kol yang pucat.
Gunawan masih ingat, suatu pagi di 2014, air dari gentong terakhir habis.
Ia melihat anak-anak berjalan ke sekolah menapaki lumpur kering, membawa botol kosong.
“Waktu itu saya berpikir,” ujarnya, “kalau air tak lagi berpihak pada kita, mungkin karena kita terlalu lama tidak berpihak pada alam.”
Dari kegelisahan itulah gerakan kecil dimulai.

Musim yang Menguji

Sayangnya, gerakan itu tak langsung disambut tepuk tangan.
Ketika Gunawan mengajak warga memisahkan sampah dan membuat kompos dari kotoran sapi, sebagian tertawa.
“Kotoran disimpan? Bau!” katanya menirukan tawa teman-teman lamanya.
Ia mulai dengan empat rumah. Setiap sore, mereka menumpuk sisa pakan sapi, daun kering, dan jerami di pojok kandang.
Bau memang menyengat, tapi setelah seminggu, tumpukan itu mulai berubah warna, menghangat, lalu menjadi tanah baru yang lembut.
Kemudian datang ide lain, yaitu menyimpan air hujan.
Ia dan beberapa pemuda membuat talang dari pipa bekas, mengalirkannya ke tong plastik biru. Setiap tetes hujan jadi harta. Anak-anak belajar menadah air, menulis di papan kayu: setetes air, seribu harapan.
Namun tantangan tak berhenti.
Tahun 2016, kemarau panjang membuat sebagian ternak mati. Beberapa warga kembali membuang limbah ke sungai.
“Kami butuh hasil cepat,” ujar seorang petani waktu itu.
Gunawan terdiam lama. Malamnya ia menulis di buku catatan: kalau gerakan ini berhenti di lelah pertama, berarti kami tak benar-benar menjaga.
Ia memohon pendampingan ke berbagai pihak.
Tahun 2018, bantuan datang. Astra melalui program Kampung Berseri Astra mendukung inisiatif JAGAL. Mereka membantu pelatihan pengolahan limbah, bibit hortikultura, dan peralatan untuk Kelompok Wanita Tani (KWT).
Perlahan, desa yang dulu identik dengan bau kotoran berubah jadi kampung yang harum daun dan tanah basah.
Di rumah-rumah warga, pot sayur menjalar di sepanjang pagar. Di halaman, tandon air hujan berdiri seperti drum besar penjaga kehidupan. Anak-anak menanam sawi dan stroberi. Para ibu menimbang pupuk kompos.
Meski begitu, gerakan ini masih rapuh.
Tahun 2020, badai besar menumbangkan pohon dan merusak tandon. Hujan deras menggerus tanah. Gunawan nyaris menyerah. Tapi pagi setelah badai, ia melihat anak kecil menyapu daun di depan sekolah sambil berkata, “Biar bersih, biar airnya bisa jalan lagi.”
Dari situ ia tahu, gerakan ini sudah berpindah tangan. Dari dirinya ke generasi berikutnya.
Alam yang Kembali Menjawab

Kini Suntenjaya berbeda. Di halaman KWT, tanah gelap mengilap oleh kompos.
Di kandang, kotoran sapi tak lagi limbah, tapi bahan bakar pupuk. Air hujan ditampung dalam belasan tandon, cukup untuk irigasi kebun sayur di musim kering.
Gunawan menatap hamparan hijau di depan rumahnya.
“Kalau dulu kami bertani untuk hidup, sekarang kami bertani supaya bumi ikut hidup,” ujarnya sambil tersenyum.
Ecovillage JAGAL kini dikunjungi banyak orang, mulai dari mahasiswa, komunitas kota, bahkan sekolah dari Bandung. Mereka belajar memilah sampah, membuat kompos, mengenal istilah Circular Farming.
Circular Farming atau pertanian sirkular adalah cara bertani yang meniru cara alam bekerja. Tak ada yang benar-benar terbuang; setiap sisa menjadi awal bagi kehidupan lain.
Limbah ternak diubah menjadi pupuk kompos, sisa panen dijadikan pakan, air hujan ditampung kembali untuk irigasi.
Prinsip Circular Farming sederhana, yaitu memutar kembali energi agar tanah, air, dan udara saling menghidupi.
Di Suntenjaya, konsep ini dimulai dari hal kecil, yakni kotoran sapi, daun layu, dan air hujan yang dulu dianggap limbah—kini menjadi sistem tertutup yang terus memberi.
“Yang keluar dari alam, kembali lagi ke alam,” kata Gunawan sambil menggenggam segenggam tanah hitam yang lembap.
Pendekatan ini perlahan diikuti banyak desa lain di Indonesia. Di Kulon Progo, petani memanfaatkan biogas dari limbah sapi untuk bahan bakar dapur. Di Lombok Timur, kelompok tani perempuan membuat kompos dan menanam sayur organik di pekarangan.
Dari hulu sampai pesisir, sistem sirkular mengubah cara warga memandang pertanian jadi bukan sekadar produksi, tapi siklus yang menjaga keseimbangan.
Bagi warga Suntenjaya, semua itu sederhana saja.
“Kami hanya melanjutkan yang seharusnya dilakukan,” kata seorang ibu anggota KWT.
Yang paling terasa bukan hanya perubahan tanah, tapi juga cara pandang. Warga tak lagi melihat alam sebagai sesuatu yang perlu dikendalikan, melainkan disapa dan dijaga.
Menjelang sore, langit Suntenjaya memantulkan warna tembaga di permukaan tandon air. Suara sapi terdengar lembut, bercampur tawa anak-anak yang bermain lumpur.
Gunawan berdiri di tepi kebun, memandangi aliran air kecil menuju sungai. “Air ini akan sampai ke kota,” katanya pelan. “Semoga sampai juga pesannya: kalau kita jaga alam, alam akan selalu jaga kita.”
Referensi:
- Yusuf, M & Nursan, Muhammad & Asasandi, I Gn & FR, Aeko & Efendy, Efendy & Anwar, Anwar & Husni, Syarif. (2025). Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Dalam Pembuatan Pupuk Kompos dari Limbah Organik Rumah Tangga di Desa Sugian, Lombok Timur, NTB. Jurnal SIAR ILMUWAN TANI. 6. 63-70. 10.29303/jsit.v6i1.192.
- Adminutama. (n.d.). Pemanfaatan biogas kotoran sapi. https://ft.ugm.ac.id. https://ft.ugm.ac.id/pemanfaatan-biogas-kotoran-sapi
- Bertanam Pohon, Hadirkan Rahmat dan Berkah-Nya. (2022, December 5). Walungan. https://walungan.org/2022/12/05/bertanam-pohon-hadirkan-rahmat-dan-berkah-nya/
- Aksi Hijau Kampung Berseri Astra Suntenjaya Terapkan Pertanian Ramah lingkungan. (2022, December 6). kompas.id. https://www.kompas.id/baca/adv_post/aksi-hijau-kampung-berseri-astra-suntenjaya-terapkan-pertanian-ramah-lingkungan



