Memasuki 2026, Indonesia tumbuh sebagai salah satu pasar digital terbesar di dunia.
Berdasarkan laporan Laporan Digital Indonesia 2026 dari We Are Social, Meltwater, dan Kepios, populasi Indonesia mencapai 286 juta jiwa, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 0,8%.
Dari jumlah tersebut, 230 juta orang telah menggunakan internet, setara 80,5% dari populasi, dan meningkat 8,7% dalam setahun.
Sementara itu, jumlah identitas pengguna media sosial mencapai 180 juta, atau sekitar 62,9% dari populasi.
Hal ini menunjukkan bahwa internet dan media sosial kini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Isi Artikel
- Pertumbuhan Demografi dan Urbanisasi Dorong Konektivitas
- Adopsi Internet Naik Konsisten selama Satu Dekade
- Budaya Mobile-First Semakin Mengakar di Semua Lapisan Masyarakat
- Koneksi Seluler Masih Jadi Tulang Punggung Akses Online
- Media Sosial Jadi Ruang Digital Utama bagi Masyarakat
- E-commerce Terus Tumbuh Lewat Kebiasaan Belanja Mobile
- Layanan Keuangan Digital Semakin Diterima Pengguna Internet
- Fenomena Multi-screening Membentuk Perilaku Konsumsi Konten Baru
- Peluang dan Tantangan Ekosistem Digital Menurut Laporan Digital Indonesia 2026
Pertumbuhan Demografi dan Urbanisasi Dorong Konektivitas

Laporan digital Indonesia 2026 menunjukkan bahwa struktur demografi Indonesia masih didominasi kelompok usia produktif dan usia muda (10β34 tahun).
Ini menjadi sinyal positif bahwa adopsi digital akan terus kuat untuk beberapa tahun ke depan.
Sekitar 60% penduduk Indonesia tinggal di wilayah urban, sehingga pertumbuhan layanan digital masih lebih cepat di kota besar.
Namun, peluang terbesar justru ada di wilayah non-perkotaan yang mulai mendapatkan konektivitas internet lebih baik.
Perubahan ini membuka ruang besar untuk ekspansi edukasi digital, layanan publik, dan e-commerce di kota tingkat dua, tiga, hingga area pedesaan.
Baca juga: Data Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026
Adopsi Internet Naik Konsisten selama Satu Dekade

Sejak 2015, angka pengguna internet mengalami pertumbuhan stabil hingga mencapai titik tertingginya pada 2025β2026.
Dari kisaran 47β50% satu dekade lalu, kini penetrasi internet menyentuh 80,5% dari populasi. Pertumbuhan ini mencerminkan bahwa internet tidak lagi dianggap sebagai layanan opsional, melainkan kebutuhan esensial.
Orang-orang kini mengandalkan internet untuk bekerja, belajar, hiburan, komunikasi, hingga aktivitas administratif sehari-hari.
Lonjakan ini juga memperlihatkan bagaimana layanan digital kini menjadi standar baru dalam menjalani rutinitas.
Budaya Mobile-First Semakin Mengakar di Semua Lapisan Masyarakat

Indonesia sejak dulu dikenal sebagai negara mobile-first.
Artinya, kebanyakan orang Indonesia lebih sering menggunakan HP untuk beraktivitas di internet daripada laptop atau komputer.
Laporan digital Indonesia 2026 menguatkan tren tersebut. 98% pengguna internet mengakses internet lewat ponsel, sementara hanya sekitar 51% yang menggunakan laptop atau desktop.
Smartphone telah menjadi alat utama untuk bekerja, mengobrol, berbelanja, bermain game, dan mencari informasi.
Rata-rata waktu yang dihabiskan untuk mengakses berbagai media terkoneksi mencapai 37 jam 20 menit per minggu.
Dengan dominasi perangkat mobile seperti ini, tidak mengherankan jika pengembangan aplikasi, pembayaran digital, dan pengalaman mobile menjadi prioritas bagi perusahaan.
Koneksi Seluler Masih Jadi Tulang Punggung Akses Online

Indonesia memiliki 331 juta koneksi seluler aktif, atau sekitar 116% dari populasi. Hal ini menandakan bahwa banyak orang memiliki lebih dari satu SIM card.
Ini umum terjadi karena masyarakat ingin memanfaatkan paket data berbeda, memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan, atau mengatasi kualitas jaringan yang beragam.
Meskipun koneksi seluler turun 5,2% dari tahun sebelumnya, hal ini diperkirakan terjadi akibat pembersihan data nomor tidak aktif, pengaturan ulang kartu ganda, dan perpindahan ke layanan yang lebih efisien.
Secara keseluruhan, jaringan seluler tetap menjadi fondasi konektivitas digital di Indonesia.
Media Sosial Jadi Ruang Digital Utama bagi Masyarakat

Lonjakan pengguna media sosial mencapai 26% dalam setahun adalah highlight utama di laporan ini.
Identitas pengguna mencapai 180 juta, yang menunjukkan bahwa platform seperti TikTok, YouTube, Instagram, WhatsApp, dan Facebook telah menjadi ruang utama masyarakat untuk berkomunikasi, mencari hiburan, dan mengonsumsi konten.
Perlu dicatat bahwa yang dihitung adalah “identitas” pengguna, bukan jumlah orang. Karena banyak individu memiliki lebih dari satu akun.
Terlepas dari itu, meningkatnya penggunaan media sosial menegaskan bahwa konten video pendek, live content, komunitas niche, serta interaksi digital semakin mendominasi kebiasaan sehari-hari masyarakat.
E-commerce Terus Tumbuh Lewat Kebiasaan Belanja Mobile

Menurut laporan digital Indonesia 2026, tren belanja online di Indonesia juga terus menguat.
Sebanyak 99 juta orang membeli produk konsumsi lewat kanal online, dengan total belanja tahunan sekitar US$42 miliar.
Rata-rata belanja per pembeli mencapai US$424 per tahun, dan 68% dari transaksi e-commerce dilakukan melalui ponsel.
Data ini menunjukkan betapa kuatnya kebiasaan βlihat produk β scroll β checkoutβ yang sepenuhnya berlangsung di smartphone.
Selain mengubah lanskap retail, kebiasaan ini juga menciptakan peluang bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar tanpa harus memiliki toko fisik.
Baca juga: Panduan Digital Marketing untuk UMKM
Layanan Keuangan Digital Semakin Diterima Pengguna Internet

Di bidang keuangan, adopsi layanan digital juga mencatat pertumbuhan yang signifikan.
Sekitar 28,3% pengguna internet usia 16+ menggunakan aplikasi perbankan, investasi, atau asuransi setiap bulan.
Sementara 17,8% menggunakan layanan pembayaran mobile seperti dompet digital, dan 15,9% memiliki aset kripto.
Hal ini menunjukkan bahwa literasi dan kepercayaan terhadap transaksi digital terus meningkat, meski tantangan besar tetap ada, terutama dalam edukasi keamanan siber, akses informasi keuangan, dan pemerataan penggunaan di wilayah non-urban.
Fenomena Multi-screening Membentuk Perilaku Konsumsi Konten Baru

Bertambah banyaknya waktu online menciptakan satu fenomena menarik, yaitu multi-screening.
Multi-screening ini artinya orang-orang menggunakan lebih dari satu perangkat secara bersamaan.
Contohnya, menonton TV sambil scroll TikTok, bekerja di laptop sambil membuka WhatsApp Web, atau menonton live streaming sambil cek harga produk di marketplace.
Pola konsumsi seperti ini membuat perhatian pengguna semakin terfragmentasi, tapi juga membuka peluang bagi brand dan creator untuk menghadirkan pesan yang konsisten di berbagai kanal sekaligus.
Peluang dan Tantangan Ekosistem Digital Menurut Laporan Digital Indonesia 2026

Laporan Digital 2026 pada dasarnya menyediakan peta besar bagaimana masyarakat Indonesia berperilaku di dunia online.
Peluangnya sangat besar, yaitu ratusan juta pengguna aktif, budaya mobile-first, transaksi digital yang semakin kuat, dan media sosial sebagai ruang interaksi terbesar.
Namun di sisi lain, tantangan pemerataan akses, kualitas literasi digital, dan keamanan online tetap penting untuk diperhatikan.
Ke depan, fokus bukan hanya memperluas jumlah pengguna internet, tetapi menghadirkan pengalaman digital yang benar-benar bermanfaatβbaik untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun interaksi sosial.
Memahami laporan digital Indonesia 2026 adalah langkah pertama untuk memastikan bahwa Indonesia berkembang menjadi ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Referensi
Digital 2026: Indonesia β DataReportal β Global digital insights. (2025, November 5). DataReportal β Global Digital Insights. Diakses 11 November 2025 dari https://datareportal.com/reports/digital-2026-indonesia




