7 Tren Content Marketing di Indonesia 2026

Perkembangan dunia digital di Indonesia melaju dengan sangat cepat. Cara orang mencari informasi, memilih produk, sampai berbelanja sudah jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Teknologi semakin canggih. Media sosial semakin dominan. AI mulai masuk ke hampir semua proses pemasaran.

Di tahun 2026, konten tidak lagi sekadar alat promosi. Konten akan menjadi tulang punggung strategi bisnis.

Gambaran Digital Indonesia Menuju 2026

Menurut laporan We Are Social 2026 untuk Digital Indonesia, jumlah pengguna internet di Indonesia telah menembus sekitar 230 juta orang, atau setara dengan lebih dari 80% dari total populasi.

Dalam laporan yang sama, jumlah pengguna media sosial di Indonesia juga sudah mencapai sekitar 180 juta akun aktif, atau lebih dari 60% penduduk Indonesia.

Artinya, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini:

  • Terhubung dengan internet
  • Aktif di media sosial
  • Terbiasa mencari informasi dan berbelanja secara online

Inilah alasan mengapa content marketing di 2026 tidak lagi bersifat pendukung. Konten sudah menjadi penggerak utama penjualan, loyalitas, dan pertumbuhan brand.

Tren Content Marketing di Indonesia 2026

Tren Content Marketing di Indonesia 2026 adalah AI sebagai partner, konten personal, AEO, video & social commerce, micro-influencer & UGC, dan omnichannel.

Berikut ini saya merangkum tujuh prediksi utama content marketing Indonesia 2026 yang disusun dari tren global, kondisi pasar lokal, serta data digital terbaru dari We Are Social.

1. AI Menjadi โ€œPartner Kerjaโ€ dalam Produksi Konten

Di tahun 2026, AI tidak lagi hanya dipakai untuk menulis artikel atau membuat gambar. AI akan digunakan sejak awal proses, seperti:

  • Menganalisis tren pencarian
  • Membaca minat audiens
  • Membantu membuat konsep konten
  • Mengatur jadwal posting terbaik
  • Mengoptimalkan judul dan struktur konten

AI membantu pekerjaan jadi lebih cepat dan efisien.

Apakah Content Marketer akan digantikan oleh AI?

Meski AI makin pintar, manusia tetap memegang peran utama dalam:

  • Menentukan arah strategi
  • Memahami emosi dan kebutuhan audiens
  • Menjaga nilai etika
  • Menyesuaikan konten dengan budaya lokal

Ibarat kata, AI membantu proses teknis, sedangkan manusia menentukan makna yang mau disajikan.

Apa yang perlu dilakukan oleh brand dengan adanya AI?

Mulai 2026, brand idealnya sudah punya sistem kerja gabungan manusia dan AI.

AI dipakai untuk mempercepat kerja, manusia bertugas menjaga kualitas dan arah pesannya mau dibawa ke mana.

2. Konten Akan Semakin Personal dan Real-Time

Ke depan, konten tidak bisa lagi dibuat sama untuk semua audiens. Setiap orang akan melihat versi konten yang berbeda, tergantung pada:

  • Minat
  • Riwayat pencarian
  • Lokasi
  • Perilaku belanja

Contohnya:

  • Website menampilkan produk berbeda untuk tiap pengunjung
  • Email promo disesuaikan dengan kebiasaan belanja
  • Iklan di media sosial menyesuaikan minat masing-masing orang

Dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar, selera orang semakin beragam. Konten yang terlalu umum akan gampang diskip.

Ke depannya, orang-orang mengharapkan konten yang terasa relevan dengan dirinya secara pribadi.

Lalu, apa yang perlu disiapkan brand untuk menghadapi kondisi ini?

Menurut saya, brand perlu mulai serius mengelola:

  • Data pelanggan
  • Segmentasi audiens
  • Sistem distribusi konten berbasis perilaku

3. Konten di Google Harus Siap Menjadi โ€œJawabanโ€

Dulu orang mencari dengan satu atau dua kata di Google. Sekarang mereka langsung bertanya lengkap, misalnya:

  • โ€œBagaimana cara mengatasi kulit kering?โ€
  • โ€œSusu apa yang cocok untuk anak 2 tahun?โ€

Inilah yang menurut Neil Patel melahirkan konsep Answer Engine Optimization (AEO).

Di 2026, konten yang ditampilan di website tidak hanya ditargetkan untuk muncul di Google, tapi juga untuk dijadikan jawaban langsung oleh mesin pencari berbasis AI.

Artinya, konten kita di website harus:

  • Langsung menjawab pertanyaan
  • Pakai bahasa yang jelas
  • Tidak bertele-tele
  • Mudah dipahami

Beberapa format artikel yang akan semakin penting:

  • Artikel tanya-jawab
  • Konten FAQ
  • Panduan step by step
  • Artikel solusi berbasis masalah

4. Video Pendek dan Social Commerce Tetap Mendominasi

Yang perlu dipahami bahwa video semakin ke sini, bukan lagi sekadar alat membangun awareness. Video sudah menjadi alat jualan langsung.

Video pendek dimanfaatkan untuk:

  • Edukasi produk
  • Review
  • Demo penggunaan
  • Live shopping
  • Promo real-time

Di TikTok, orang tidak perlu lagi keluar aplikasi untuk membeli. Mereka bisa langsung checkout.

Inilah yang disebut TikTok sebagai social commerce.

Trus, dampaknya buat brand apa?

Brand tidak bisa lagi menganggap video hanya sebagai konten hiburan. Video harus diperlakukan seperti:

  • Toko
  • Sales
  • Landing page

5. Micro-Influencer, UGC, dan Komunitas Semakin Dipercaya

Konsumen sekarang cenderung lebih percaya:

  • Review pengguna biasa
  • Konten dari micro-influencer
  • Testimoni di komunitas

Dibandingkan iklan dari selebgram dan artis yang punya followers jutaan.

Kenapa Micro-influencer semakin penting? Karena mereka punya:

  • Hubungan lebih dekat dengan followers
  • Interaksi yang lebih aktif
  • Kepercayaan yang lebih tinggi

Sementara konten UGC yang dibikin oleh orang-orang biasa juga terasa lebih real dan jujur.

Bagaimana cara brand memanfaatkan ini? Brand perlu mulai:

  • Mengaktifkan micro-influencer lokal
  • Mengumpulkan dan menampilkan UGC
  • Membangun komunitas pengguna

6. Konten yang Manusiawi dan Lokal Akan Jadi Pembeda

Di tengah banjir konten yang dibuat oleh manusia dan konten yang dibikin pakai AI, orang justru mencari konten yang terasa:

  • Real
  • Tulus
  • Dekat dengan kehidupan mereka

Konten yang kaku dan terasa โ€œrobotโ€ akan cepat ditinggalkan.

Indonesia sendiri punya kekayaan budaya, bahasa, dan kebiasaan yang sangat beragam. Konten yang:

  • Pakai bahasa sehari-hari
  • Mengangkat cerita lokal
  • Menyentuh pengalaman secara real

akan lebih mudah diterima dan diingat.

Apa yang harus dilakukan oleh brand?

  • Mengangkat kisah orang-orang secara real
  • Menggunakan gaya bahasa yang membumi
  • Menyesuaikan konten dengan wilayah audiens

7. Omnichannel Menjadi Standar, Bukan Pilihan

Omnichannel adalah strategi marketing yang menghubungkan semua channel online dan offline agar orang-orang mendapatkan pengalaman yang konsisten dan terintegrasi di setiap titik interaksi dengan brand.

Saat ini satu orang bisa:

  • Menemukan brand lewat TikTok
  • Mencari review di Google
  • Membeli di marketplace
  • Bertanya di WhatsApp

Semua terjadi di waktu yang berdekatan.

Jika pesan dan pelayanan berbeda-beda di tiap channel, maka kepercayaan akan turun. Di 2026, konsumen mengharapkan pengalaman yang rapi dan terhubung satu sama lain.

Makanya, brand perlu mengintegrasikan:

  • Website
  • Media sosial
  • Marketplace
  • Email
  • WhatsApp
  • Sistem CRM

Semua harus berjalan dalam satu sistem yang saling terhubung.

Intinya mah…

Tahun 2026 akan menjadi fase penting dalam dunia content marketing Indonesia. Konten akan semakin:

  • Didukung AI
  • Dipersonalisasi
  • Berbasis jawaban
  • Didominasi video
  • Didukung komunitas
  • Diperkuat nilai lokal
  • Terhubung lintas channel

Beberapa hal yang perlu disiapkan oleh brand, yakni:

  1. AI sebagai partner kerja
  2. Konten yang semakin personal
  3. Peralihan dari SEO ke AEO
  4. Video sebagai mesin transaksi
  5. Kepercayaan berbasis komunitas
  6. Konten manusiawi dan lokal
  7. Omnichannel sebagai standar

Brand yang bergerak lebih cepat akan memimpin pasar. Brand yang terlambat akan mengejar dari belakang.

Referensi:

Leave a Comment